Jumat, 30 November 2012

Taman Baca Simbiosis Menanti Uluran Dermawan

Share

     Taman Bacaan Simbiosis adalah suatu wadah yang sedang dan sudah disiapkan untuk melahirkan anak-anak generasi bangsa yang diharapkan mampu berkontribusi secara positif untuk Bangsa dan Negara Indonesia, yang terbentuk sejak 10 Desember 2010. Simbiosis bergerak dengan merangsang minat anak-anak untuk membaca dan berkreativitas. Beralamat di Kp. Rancakendal No. 39, RT 01 RW 08, Des. Jelegong, Kec. Rancaekek. Kab. Bandung, Kode Pos 40394.

     Simbiosis berangkat dari kekhawatiran kami melihat anak-anak yang seperti terlantar. Setiap hari mereka biasanya bermain sampai tidak kenal waktu, mereka tumbuh menjadi kasar dan brutal. Sebagian besar penduduk di lingkungan ini bermata pencaharian sebagai buruh pabrik industri yang tersebar di sepanjang Bandung Timur. Rata –rata mereka bekerja dengan system shift selama Sembilan jam sehari, misalkan apabila shift pagi dari jam 05.00- 15.00, shift siang dari jam 13.00 - 22.00 dan shift malam dari jam 21.00 – 06.00 WIB. Hal tersebut kemudian menjadikan para orang tua tidak memiliki banyak waktu untuk memberikan perhatian penuh terhadap anak-anaknya.
     Atas dasar hal tersebut kemudian kami berfikir untuk berusaha menyediakan tempat bermain yang bukan hanya sekedar bermain saja tetapi mampu memberikan dampak jangka panjang, untuk merangsang potensi-potensi mereka di masa mendatang. Tentu besar harapan kami untuk menjadikan taman bacaan simbiosis ini menjadi solusi untuk dapat mengeliminasi dampak terburuk dari kondisi tunas-tunas bangsa yang tidak memiliki kemampuan untuk bisa berkompetisi di masa mendatang, dan sebuah dosa besar apabila kami hanya diam dan mengamini kondisi tersebut tanpa bisa merubahnya sedikitpun.
     Sampai dengan saat ini kami sudah memiliki sekitar 20 anak, namun kami belum mampu untuk menampung lebih banyak anak didik karena keterbatasan yang kami miliki. Bahkan sudah lebih dari lima bulan kami mengalami masa hibernasi yang panjang, karena berbagai aspek sarana dan prasarana penunjang yang terbatas.
     Maka melalui media ini kami ingin mengajak  keluarga, saudara dan teman kami, dimanapun anda berada. Berkenan membantu kami untuk menyusun kembali  Taman Baca Simbiosis. Memang benar konsep kami masih sederhana, hanya sebuah wadah kecil dengan beberapa pengurus di sebuah kampung yang ingin anak-anaknya mengenal dan kemudian mencintai dunia membaca sejak dini. Tetapi semoga hal tersebut tidak menyurutkan saudara/i untuk membantu kami di sini. Apabila anda memiliki buku-buku cerita, pelajaran untuk anak usia dari 6 tahun sampai dengan 12 tahun (TK- kelas 6 SD), serta alat gambar/ tulis. buku dan alat tulis bekas anak, adik, dan saudaranya yang tidak terpakai lagi mungkin bisa diberikan/ dihibahkan kepada adik-adik di taman bacaan simbiosis.
Atas perhatiannya kami sampaikan terimakasih.
[Sebagian Masa Depan Mereka Ada Di Tangan Kita, anak-anak hanyalah akibat dari apa yang disebabkan orang dewasa terhadapnya]


Fhoto Kegiatan Anak Taman Baca Simbiosis

Share












































































































Kamis, 04 Oktober 2012

Backpacker Bandung – Yogyakarta September 2012

Share
-->
     Berbagi kisah petualangan Bandung – Yogya. Niat hati ingin backpacker ke Thailand tapi nggak punya pengalaman bacpackeran (“mau bacpackeran gimana, pengalaman backpacker aja nggak punya, heee...”). Akhirnya saya dan sodara (ber-3) memberanikan diri untuk mencoba berpetualang ke tempat yang dekat dulu. Nah dipilihlah yogyakarta sebagai tempat percobaan pertama.
     Setelah mengulik-ulik Google, kita cari berbagai pengalaman orang-orang yang bacpacker ke yogya dan ketemu  yogyes.com.  Yogyes merupakan web pariwisata yogyakarta. Info  wisata di yogyakarta, mulai dari tempat wisata, penginapan, rent, peta yogya, dll. ada semua di yogyes.com.  disusunlah Rencana Perjalanan Bandung Yogyakarta lengkap dengan rencana menabung seminggu 10 rb. (“sambil nyanyi lagu Titik Puspa ma cucunya kali, jaman dulu waktu kecil.heee...”)
     Untuk transportasi kita pilih menggunakan Kereta Api karena lebih murah. Dua minggu sebelum pemberangkatan kita telpon ke beberapa penginapan (harga bersahabat) info dari yogyes.com. dan akhirnya kita pilih Hotel Indonesia,  Jl. Sosrowijayan No.9  (letaknya di sekitar Malioboro) dengan biaya Rp. 100 rb/3 orang / hari. Tanpa harus DP dulu (rata-rata mereka nggak punya Rekening Bank, yang penting kita hub berkala ketika udah deket-deket waktu pemberangkatan).  Pesan karcis kereta Rp. 35 rb, KA KAHURIPAN Padalarang – Kediri (Karcis sudah bisa di pesen H-90 dan sekarang udah pas tempat duduk, jadi ggk akan kepenuhan) kita beli tiket PP langsung supaya nggak ribet. 
     Singkat cerita setelah persiapan sudah terdata secara sempurna(LOL). Tibalah Waktunya pemberangkatan Kamis, 13 September 2012. Pertama  kita berangkat dari stasiun Rancaekek menuju stasiun Kiaracondong karcis Rp 1000. Setelah gugulutukan (terlantar.Red) beberapa jam karena kita datengnya kesorean ke Kiaracondong. Tibalah kereta kahuripan jadwal berangkat 20.40 (hanya berhenti beberapa menit, klo bisa kita tanya petugasnya kira-kira gerbong kereta yang sesuai dengan tiket kita, berhentinya di sebelah mana. Ato nggk masuk dulu ja entar baru cari gerbong dan No kursi kita). Nasib sedikit apes dialami kita bertiga, kebetulan di depan kita itu ada anak-anak yang “Maaf” Muntah POP MIE. Akhirnya kita juga ikut repot membersih kan jejak2 pop mie yang tertinggal, dengan tisu yang kita bawa. ya sudah lah tak apa, abis mau gimana lagi, heee... namanya fasilitas publik otomatis kita harus siap  berbagai dengan kepentingan orang lain.” Karena kita naik kereta ekonomi . untuk tujuan yogyakarta berhentinya di Stasiun Lempuyangan. Kereta tiba di lempuyangan jam 05.30.

Kamis, 28 Juli 2011

Demokrasi Ala Indonesia Bagian 2

Share
">
Pada Bab ke 31 yang berjudul Masa Perkembangan, masih di dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia. Menggambarkan bagaimana Sukarno kala itu melakukan perjalanan ke Amerika untuk menerangkan dasar politik bangsa Indonesia. Berikut kutipan bab 31 pada buku tersebut diatas.
“Kami tidak punya hasrat untuk meniru Uni Sovyet, pun tidak akan mengikuti dengan membabi buta jalan yang direntangkan oleh Amerika untuk kami. Kami tidak akan menjadi negeri satelit dari salahsaru blok.” Politik bebas ini mudah disalah artikan oleh Amerika. Amerika hanya menyukaimu apabila engkau memilih pihak yang dikehendakinya. Kalau engkau tidak sependirian dengan dia, engkau secara otomatis tergolong dalam blok Uni Sovyet.
Jawaban mereka adalah politik Amerika bersifat global. Suatu negara harus memilih salahsatu pihak. Aliran yang netral adalah immoril.”
Selanjutnya kusampaikan kepadanya, “sebagai sahabat yang bijaksana dan lebih tua Amerika memberi kami nasehat, itu bisa. Akan tetapi mencampuri persoalan kami, jangan. Kami telah menyaksikan Kapitalisme dan Demokrasi Barat pada orang Belanda. Kami tidak ada keinginan untuk memakai sistim itu. Kami akan menumbuhkan suatu cara baru yang hanya cocok dengan kepribadian kami. Ia bukanlah barang yang bisa diekspor keluar, akan tetapi sebaliknya kami tidak terima barang impor berupa ajaran-ajaran yang mengikat.”
Dari Amerika Serikat aku mengunjungi Uni Sovyet dan Republik Rakyat Tiongkok. Sekembali, ditanah air aku menguraikan teori Demokrasi Terpimpin yang telah kuanut semenjak tahun 1928. hal ini menimbulkan reaksi yang hebat di Washington. Dalam pandangan mereka, oleh karena aku baru datang dari Tiongkok dan Rusia, Demokrasi Terpimpin itu baunya seperti panji baru dari komunis. Pertama-tama, orang Amerika nampaknya menganggap setiap gerakannya adalah hasil gerakan kemerdekaan dari masa hampir 200 tahun yang lalu. Karena itu, sungguhpun mereka telah menyambutku dengan ramah, mereka masih menunggu .......... menungguku membuat langkah yang mereka namakan langkah yang salah.

Rabu, 27 Juli 2011

Demokrasi Ala Indonesia Bagian 1

Share
Sedih rasanya melihat kondisi Bangsa Indonesia saat ini. Entah seperti apa bentuknya sekarang, yang terlihat hanyalah para pejabat yang ketahuan secara berjamaah mengkorup trilyunan uang negara. Pergolakan di berbagai daerah yang menuntut memisahkan diri dari NKRI. Banyaknya partai politik, yang kemudian hal tersebut menggambarkan banyaknya kepentingan yang diperjuangkan mereka tetapi entah kepentingan siapa yang dibawa. Pembengkakan anggaran yang 70% APBN habis untuk menggaji para PNS mulai dari pusat sampai daerah, padahal kebutuhan untuk pendididkan masih minim, serta kelaparan masih terjadi di berbagai daerah. Serta banyaknya aksi teroris yang mengusik ketentraman rakyat Indonesia.
Rasanya ingin kembali melihat konsep yang seperti apa yang dahulu kala di impikan oleh para pejuang tanah air, untuk Indonesia. Karena ketika melihat kedalam Pancasila dan pembukaan Undang – Undang 1945 yang setiap hari senin dari mulai SD, SMP sampai SMA selalu dibacakan, rasanya betapa indahnya dan idealnya Indonesia jika konsep itu benar-benar diterapkan. Tetapi pada kenyataanya, inilah yang terjadi.
Berbicara masalah perjuangan kemerdekaan dan konsep – konsep terbentuknya Negara Indonesia, tentu tidak akan lepas dari seorang penyambung lidah Indonesia. Yah benar, Sukarno. Tertarik untuk mecari buku-buku di perpustakaan kampus yang berkaitan dengan sukarno. Akhirnya ditemukanlah buku Otobiografi, “Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” karangan Cindy Adams yang merupakan terjemahan dari buku “Sukarno, An Autobiography As Told To Cindy Adams” edisi Amerika Serikat yang diterbitkan oleh The Bobbs-Merrill Company INC, New York, tahun 1965.
Banyak hal yang kemudian terungkap di dalam buku tersebut, baik latar belakang kehidupan sukarno sampai pada pemikiran-pemikiran sukarno juga diterangkan secara gamblang. Bagaimana sukarno diasingkan, dipenjara, pemberontakan, munculnya paham Nasakom, perjuangan merebut kemerdekaan, dan lain-lain.  tetapi yang sangat membuat saya tertarik untuk kemudian dibagikan kepada teman-teman di blog ini, ada pada bab 30. tentang Masa Mempertahankan Hidup (hidup Negara Indonesia). Yang sepertinya relevan dengan sedikit kondisi Indonesia saat ini. Berikut kutipan dari buku Otobiografi sukarno hal 390-394.

Selasa, 19 Juli 2011

Pesan Untuk Para Pendusta Indonesia

Share Mungkin kini aku lemah
Mataku membeku
Langkah-langkah telah kehilangan arah
Luka-luka menganga di sekujur tubuh

Aku terinjak dikeramaian
Teriakanku mati di tangan orang-orang yang mengerti
Mereka bahagia.. akhirnya aku terluka

Tapi kau jangan dulu bahagia
Tenagaku masih tersisa
Dan aku akan kembali
Untuk nusantara yang sejahtera

Lihatlah para kesatria yang akan aku lahirkan
Srikandi-srikandi yang telah aku siapkan
Pekuatlah nyalimu jika mampu
Peretebal mukamu jika kau masih bangga

Senin, 18 Juli 2011

Indonesia Kelaut Aje!!!

Share
     Sudah saatnya kita mengarahkan pandangan kita menuju laut. Ubah orientasi pembangunan bangsa ini dari yang semula hanya terfokus pada land based oriented menjadi archipelagaic based oriented. Konsep archipelagic melahirkan Indonesia sebagai negara yang berlandasan kemaritiman. Sekian lama pembangunan bangsa ini terfokus pada daratan. Padahal wilayah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini, 2/3 atau 77% dari total wilayah NKRI merupakan wilayah perairan. Sedangkan luas daratannya hanya sekitar 33% saja.
     Indonesia merupakan negara kepulauan (Archipelagic State) yang terdiri dari kurang lebih 17.508 gugusan pulau, dengan garis pantai sepanjang 18 000 km. Antara pulau satu dan yang lain membentang lautan, tetapi laut tersebut tidak dijadikan pemisah melainkan penghubung antar pulau. Tentunya tidak mudah untuk menghubungkan 17.508 pulau di nusantara ini agar tetap terintegrasi menjadi satu kesatuan dengan tanah air.
Sejarah perjuangan yang panjang, bagi indonesia untuk diakui sebagai negara kepulauan. Singkat cerita bahwa para pedahulu kita tidak menginginkan bangsa ini tersekat-sekat oleh lautan. Dahulu pulau–pulau di indonesia hanya memiliki daerah teritotial laut sekitar tiga mil yang ditarik dari bagian terluar suatu pulau terhadap laut. Lautan Indonesia yang luas mengakibatkan adanya zona laut bebas diantara pulau-pulau Indonesia yang berdaulat. Sehingga kapal–kapal asing tetap boleh hilir mudik di perairan Indonesia. Hal ini yang kemudian dirasa akan mengancam kedaulatan bangsa ini karena tidak mungkin suatu negara yang berdaulat pulau – pulaunya di batasi oleh laut bebas tersebut.