Rabu, 27 Juli 2011

Demokrasi Ala Indonesia Bagian 1

Share
Sedih rasanya melihat kondisi Bangsa Indonesia saat ini. Entah seperti apa bentuknya sekarang, yang terlihat hanyalah para pejabat yang ketahuan secara berjamaah mengkorup trilyunan uang negara. Pergolakan di berbagai daerah yang menuntut memisahkan diri dari NKRI. Banyaknya partai politik, yang kemudian hal tersebut menggambarkan banyaknya kepentingan yang diperjuangkan mereka tetapi entah kepentingan siapa yang dibawa. Pembengkakan anggaran yang 70% APBN habis untuk menggaji para PNS mulai dari pusat sampai daerah, padahal kebutuhan untuk pendididkan masih minim, serta kelaparan masih terjadi di berbagai daerah. Serta banyaknya aksi teroris yang mengusik ketentraman rakyat Indonesia.
Rasanya ingin kembali melihat konsep yang seperti apa yang dahulu kala di impikan oleh para pejuang tanah air, untuk Indonesia. Karena ketika melihat kedalam Pancasila dan pembukaan Undang – Undang 1945 yang setiap hari senin dari mulai SD, SMP sampai SMA selalu dibacakan, rasanya betapa indahnya dan idealnya Indonesia jika konsep itu benar-benar diterapkan. Tetapi pada kenyataanya, inilah yang terjadi.
Berbicara masalah perjuangan kemerdekaan dan konsep – konsep terbentuknya Negara Indonesia, tentu tidak akan lepas dari seorang penyambung lidah Indonesia. Yah benar, Sukarno. Tertarik untuk mecari buku-buku di perpustakaan kampus yang berkaitan dengan sukarno. Akhirnya ditemukanlah buku Otobiografi, “Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” karangan Cindy Adams yang merupakan terjemahan dari buku “Sukarno, An Autobiography As Told To Cindy Adams” edisi Amerika Serikat yang diterbitkan oleh The Bobbs-Merrill Company INC, New York, tahun 1965.
Banyak hal yang kemudian terungkap di dalam buku tersebut, baik latar belakang kehidupan sukarno sampai pada pemikiran-pemikiran sukarno juga diterangkan secara gamblang. Bagaimana sukarno diasingkan, dipenjara, pemberontakan, munculnya paham Nasakom, perjuangan merebut kemerdekaan, dan lain-lain.  tetapi yang sangat membuat saya tertarik untuk kemudian dibagikan kepada teman-teman di blog ini, ada pada bab 30. tentang Masa Mempertahankan Hidup (hidup Negara Indonesia). Yang sepertinya relevan dengan sedikit kondisi Indonesia saat ini. Berikut kutipan dari buku Otobiografi sukarno hal 390-394.
Dimulai semenjak tahun ’45. Undang- Undang Dasar ’45 menentukan adanya kabinet presidensil seperti juga Amerika Serikat. Akan tetapi sekutu yang mendarat di Indonesia adalah orang Inggris dan Belanda. Mereka sudah terbiasa dengan kepala negara yang duduk hanya sebagai lambang saja. Seperti Ratu Juliana, Raja Inggris atau Presiden Republic Prancis yang sama sekali tidak memegang tanggung jawab.
Mereka mempersamakan pengertian tentang masyarakat, dimana kepala negara bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan, dengan sistem Nazi Jerman atau Kerajaan Jepang. “Kalau Presiden Sukarno menjadi kepala pemerintah, panglima tertinggi angkatan bersenjata dan perdana menteri, itu sudah sama dengan fasis,” teriak Sir Philip Christison dan panglima-panglima Inggris lainnya.
“Tidak perlu heran, oleh karena pemerintahannya dibawah pengaruh Jepang,” teriak Den Haag.
“tidak,” teriak kami, ini adalah Indonesia asli. Bagi kami kepala negara itu tak obahnya dengan kepala keluarga. Dalam kebiasaan orang islam, maka sibapak membuat semua keputusan bagi keluarganya. Seorang kepala kampung memikul semua beban dari kampungnya. Ini kebiasaan Indonesia selama berabad-abad.” Kami berusaha mati-matian untuk menghimpun persetujuan dunia. Ketika kawan-kawan dan simpatisan diluarnegeri  mengadakan tekanan untuk merobah bentuk aparatur negara kami dengan model Demokrasi ala Belanda, maka sebagian pemimpin kami yang sebagian besar berpendidikan Belanda menjadi ragu-ragu dan menyerah. 14 November 1945 kami memutar haluan dan membentuk kabinet parlementer dengan seorang perdana menteri. Dalam Konperensi Meja Bundar penyesuaian diri kepada Hollands Denken ini disahkan dengan jalan penyusunan Undang-Undang Dasar yang baru. Nah, begitulah jadinya kami tertipu. Begitu pula, ketika mereka mengusulkan sistim multipartai yang liberal, kamipun menganggukan kepala.
Pada suatu negara yang tadinya tidak boleh menjalankan kegiatan politik, segeralah terlihat hasil sebagai akibat dari sistim ini. Lebih dari 40 partai yang berlain-lainan timbul bagai cendawan tumbuh. Kami takut akan dicap sebagai “diktator fasis bikinan jepang,” sehingga setiap orang secara individu yang membentuk partai-partai  gurem diizinkan sebagai “jurubicara daripada demokrasi.” Partai politik tumbuh seperti rumput liar dengan akar yang dangkal dan yang pucuknya dibebani oleh keuntungan diri sendiri dan pengejaran suara. Timbulah pertentangan didalam. Kami menghadapi keruntuhan, persengketaan yang tak ada habis-habisnya, kebingungan yang menegakan buluroma. Rakyat Indonesia yang tadinya mempunyai satu tekad, sekarang terpecah-belah. Rakyat Indonesia terpecah dalam golongan agama dan daerah; (Aku telah mencucurkan keringat selama hidupku justru untuk memberantas penggolongan-penggolongan semacam itu). Tiap golongan mencoba untuk mengungguli golongan yang lain . perdebatan bertele-tele tanpa hasil, saling menghambat, berlomba-lomba mengejar kedudukan, fitnahan caci-maki, kritik-kritik yang mematikan, itulah buahnya. Setiap suara menuntut supaya didengar.
Aku bertanya kepada ketua-ketua partai, “Apakah  rencana saudara untuk masa depan, jika saudara memegang kekuasaan?” tidak beberapa yang mempunyai gambaran yang jelas mengenai ini. Sama saja seperti istanaku yang di obrak-abrik, boleh dikatakan hampir tidak ada yang mempunyai pikiran yang membangun selain daripada menjawab, “Tentu mesti ada kamar tidur dan kamar makan dan perlu ada korsi.” Cuma itu yang mereka tahu. Rencana mereka sesungguhnya kabur dan tidak tegas. Begitupun dengan tokoh-tokoh politik. Setiap tokoh politik memimpikan “gedung yang indah” akan tetapi bagaimana mereka membangunnya, itulah yang tidak mereka ketahui.
Semua daya kekuatan disalurkan untuk menciptakan krisis guna menjungkirkan kabinet tanpa pandang siapa yang memegang tumpuk kekuasaan. Hampir setiap enam bulan kabinet jatuh, lalu diganti dengan pemerintahan yang baru, majikan-majikan baru dan penyerahan diri pada nasib yang baru. Tanpa kepemimpinan yang nyata daripada pucuk pimpinan, dan dengan adanya gangguan menuju kesejahteraan dan pembangunan raksasa, bagaimana sang bayi Indonesia mengharapkan bisa merangkak maju dan mengambil tempatnya diantara bangsa-bangsa dewasa didunia?
Bagaimana menurut anda jika hal tersebut diatas di dikaitkan dengan kondisi saat ini? Benarkah Demokrasi Ala Indonesia yang sebenarnya mengharuskan konsep multipartai?
Masih banyak lagi yang selanjutnya. Tapi disambung di bagian yang akan datang ya,… 


                                   
Sumber : Adams, Cindy. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Jakarta: Gunung  Agung. 1966.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar