Kamis, 28 Juli 2011

Demokrasi Ala Indonesia Bagian 2

Share
">
Pada Bab ke 31 yang berjudul Masa Perkembangan, masih di dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia. Menggambarkan bagaimana Sukarno kala itu melakukan perjalanan ke Amerika untuk menerangkan dasar politik bangsa Indonesia. Berikut kutipan bab 31 pada buku tersebut diatas.
“Kami tidak punya hasrat untuk meniru Uni Sovyet, pun tidak akan mengikuti dengan membabi buta jalan yang direntangkan oleh Amerika untuk kami. Kami tidak akan menjadi negeri satelit dari salahsaru blok.” Politik bebas ini mudah disalah artikan oleh Amerika. Amerika hanya menyukaimu apabila engkau memilih pihak yang dikehendakinya. Kalau engkau tidak sependirian dengan dia, engkau secara otomatis tergolong dalam blok Uni Sovyet.
Jawaban mereka adalah politik Amerika bersifat global. Suatu negara harus memilih salahsatu pihak. Aliran yang netral adalah immoril.”
Selanjutnya kusampaikan kepadanya, “sebagai sahabat yang bijaksana dan lebih tua Amerika memberi kami nasehat, itu bisa. Akan tetapi mencampuri persoalan kami, jangan. Kami telah menyaksikan Kapitalisme dan Demokrasi Barat pada orang Belanda. Kami tidak ada keinginan untuk memakai sistim itu. Kami akan menumbuhkan suatu cara baru yang hanya cocok dengan kepribadian kami. Ia bukanlah barang yang bisa diekspor keluar, akan tetapi sebaliknya kami tidak terima barang impor berupa ajaran-ajaran yang mengikat.”
Dari Amerika Serikat aku mengunjungi Uni Sovyet dan Republik Rakyat Tiongkok. Sekembali, ditanah air aku menguraikan teori Demokrasi Terpimpin yang telah kuanut semenjak tahun 1928. hal ini menimbulkan reaksi yang hebat di Washington. Dalam pandangan mereka, oleh karena aku baru datang dari Tiongkok dan Rusia, Demokrasi Terpimpin itu baunya seperti panji baru dari komunis. Pertama-tama, orang Amerika nampaknya menganggap setiap gerakannya adalah hasil gerakan kemerdekaan dari masa hampir 200 tahun yang lalu. Karena itu, sungguhpun mereka telah menyambutku dengan ramah, mereka masih menunggu .......... menungguku membuat langkah yang mereka namakan langkah yang salah.

Rabu, 27 Juli 2011

Demokrasi Ala Indonesia Bagian 1

Share
Sedih rasanya melihat kondisi Bangsa Indonesia saat ini. Entah seperti apa bentuknya sekarang, yang terlihat hanyalah para pejabat yang ketahuan secara berjamaah mengkorup trilyunan uang negara. Pergolakan di berbagai daerah yang menuntut memisahkan diri dari NKRI. Banyaknya partai politik, yang kemudian hal tersebut menggambarkan banyaknya kepentingan yang diperjuangkan mereka tetapi entah kepentingan siapa yang dibawa. Pembengkakan anggaran yang 70% APBN habis untuk menggaji para PNS mulai dari pusat sampai daerah, padahal kebutuhan untuk pendididkan masih minim, serta kelaparan masih terjadi di berbagai daerah. Serta banyaknya aksi teroris yang mengusik ketentraman rakyat Indonesia.
Rasanya ingin kembali melihat konsep yang seperti apa yang dahulu kala di impikan oleh para pejuang tanah air, untuk Indonesia. Karena ketika melihat kedalam Pancasila dan pembukaan Undang – Undang 1945 yang setiap hari senin dari mulai SD, SMP sampai SMA selalu dibacakan, rasanya betapa indahnya dan idealnya Indonesia jika konsep itu benar-benar diterapkan. Tetapi pada kenyataanya, inilah yang terjadi.
Berbicara masalah perjuangan kemerdekaan dan konsep – konsep terbentuknya Negara Indonesia, tentu tidak akan lepas dari seorang penyambung lidah Indonesia. Yah benar, Sukarno. Tertarik untuk mecari buku-buku di perpustakaan kampus yang berkaitan dengan sukarno. Akhirnya ditemukanlah buku Otobiografi, “Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” karangan Cindy Adams yang merupakan terjemahan dari buku “Sukarno, An Autobiography As Told To Cindy Adams” edisi Amerika Serikat yang diterbitkan oleh The Bobbs-Merrill Company INC, New York, tahun 1965.
Banyak hal yang kemudian terungkap di dalam buku tersebut, baik latar belakang kehidupan sukarno sampai pada pemikiran-pemikiran sukarno juga diterangkan secara gamblang. Bagaimana sukarno diasingkan, dipenjara, pemberontakan, munculnya paham Nasakom, perjuangan merebut kemerdekaan, dan lain-lain.  tetapi yang sangat membuat saya tertarik untuk kemudian dibagikan kepada teman-teman di blog ini, ada pada bab 30. tentang Masa Mempertahankan Hidup (hidup Negara Indonesia). Yang sepertinya relevan dengan sedikit kondisi Indonesia saat ini. Berikut kutipan dari buku Otobiografi sukarno hal 390-394.

Selasa, 19 Juli 2011

Pesan Untuk Para Pendusta Indonesia

Share Mungkin kini aku lemah
Mataku membeku
Langkah-langkah telah kehilangan arah
Luka-luka menganga di sekujur tubuh

Aku terinjak dikeramaian
Teriakanku mati di tangan orang-orang yang mengerti
Mereka bahagia.. akhirnya aku terluka

Tapi kau jangan dulu bahagia
Tenagaku masih tersisa
Dan aku akan kembali
Untuk nusantara yang sejahtera

Lihatlah para kesatria yang akan aku lahirkan
Srikandi-srikandi yang telah aku siapkan
Pekuatlah nyalimu jika mampu
Peretebal mukamu jika kau masih bangga

Senin, 18 Juli 2011

Indonesia Kelaut Aje!!!

Share
     Sudah saatnya kita mengarahkan pandangan kita menuju laut. Ubah orientasi pembangunan bangsa ini dari yang semula hanya terfokus pada land based oriented menjadi archipelagaic based oriented. Konsep archipelagic melahirkan Indonesia sebagai negara yang berlandasan kemaritiman. Sekian lama pembangunan bangsa ini terfokus pada daratan. Padahal wilayah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini, 2/3 atau 77% dari total wilayah NKRI merupakan wilayah perairan. Sedangkan luas daratannya hanya sekitar 33% saja.
     Indonesia merupakan negara kepulauan (Archipelagic State) yang terdiri dari kurang lebih 17.508 gugusan pulau, dengan garis pantai sepanjang 18 000 km. Antara pulau satu dan yang lain membentang lautan, tetapi laut tersebut tidak dijadikan pemisah melainkan penghubung antar pulau. Tentunya tidak mudah untuk menghubungkan 17.508 pulau di nusantara ini agar tetap terintegrasi menjadi satu kesatuan dengan tanah air.
Sejarah perjuangan yang panjang, bagi indonesia untuk diakui sebagai negara kepulauan. Singkat cerita bahwa para pedahulu kita tidak menginginkan bangsa ini tersekat-sekat oleh lautan. Dahulu pulau–pulau di indonesia hanya memiliki daerah teritotial laut sekitar tiga mil yang ditarik dari bagian terluar suatu pulau terhadap laut. Lautan Indonesia yang luas mengakibatkan adanya zona laut bebas diantara pulau-pulau Indonesia yang berdaulat. Sehingga kapal–kapal asing tetap boleh hilir mudik di perairan Indonesia. Hal ini yang kemudian dirasa akan mengancam kedaulatan bangsa ini karena tidak mungkin suatu negara yang berdaulat pulau – pulaunya di batasi oleh laut bebas tersebut.