">
Pada Bab ke 31 yang berjudul Masa Perkembangan, masih di dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakjat Indonesia. Menggambarkan bagaimana Sukarno kala itu melakukan perjalanan ke Amerika untuk menerangkan dasar politik bangsa Indonesia. Berikut kutipan bab 31 pada buku tersebut diatas.
“Kami tidak punya hasrat untuk meniru Uni Sovyet, pun tidak akan mengikuti dengan membabi buta jalan yang direntangkan oleh Amerika untuk kami. Kami tidak akan menjadi negeri satelit dari salahsaru blok.” Politik bebas ini mudah disalah artikan oleh Amerika. Amerika hanya menyukaimu apabila engkau memilih pihak yang dikehendakinya. Kalau engkau tidak sependirian dengan dia, engkau secara otomatis tergolong dalam blok Uni Sovyet.
Jawaban mereka adalah politik Amerika bersifat global. Suatu negara harus memilih salahsatu pihak. Aliran yang netral adalah immoril.”
Selanjutnya kusampaikan kepadanya, “sebagai sahabat yang bijaksana dan lebih tua Amerika memberi kami nasehat, itu bisa. Akan tetapi mencampuri persoalan kami, jangan. Kami telah menyaksikan Kapitalisme dan Demokrasi Barat pada orang Belanda. Kami tidak ada keinginan untuk memakai sistim itu. Kami akan menumbuhkan suatu cara baru yang hanya cocok dengan kepribadian kami. Ia bukanlah barang yang bisa diekspor keluar, akan tetapi sebaliknya kami tidak terima barang impor berupa ajaran-ajaran yang mengikat.”
Dari Amerika Serikat aku mengunjungi Uni Sovyet dan Republik Rakyat Tiongkok. Sekembali, ditanah air aku menguraikan teori Demokrasi Terpimpin yang telah kuanut semenjak tahun 1928. hal ini menimbulkan reaksi yang hebat di Washington. Dalam pandangan mereka, oleh karena aku baru datang dari Tiongkok dan Rusia, Demokrasi Terpimpin itu baunya seperti panji baru dari komunis. Pertama-tama, orang Amerika nampaknya menganggap setiap gerakannya adalah hasil gerakan kemerdekaan dari masa hampir 200 tahun yang lalu. Karena itu, sungguhpun mereka telah menyambutku dengan ramah, mereka masih menunggu .......... menungguku membuat langkah yang mereka namakan langkah yang salah.